Keluarga dan Pembentukan Watak

I.  Tugas mulia dari keluarga.
Dalam rangka membekali warga jemaat mengerti bahwa keluarga mempunyai peran yang amat penting — lingkungan sosialisasi primer — di dalam pertumbuhan dan pengembangan iman, watak dan tata nilai anak, maka masalah keluarga ini perlu kita perbincangkan. Dua pertanyaan perlu diajukan yakni: untuk apakah keluarga hadir di dunia ini? Apakah fungsi keluarga?
Dari sudut pandangan Alkitab (teologis) keluarga hadir di dunia ini untuk menyatakan rencana Allah. Maksudnya, hubungan suami-istri sebagai inti dan fondasi dalam keluarga terpanggil untuk menyatakan sifat Allah yang (a) menepati perjanjian (covenant); (b) menyatakan kasih, anugerah dan pengampunan; (c) rindu untuk akrab dengan manusia (anak-anak-Nya); (d) memampukan anak-anak-Nya untuk memuliakan Dia (Balswick & Balswick, 1989:19-33).

Dilihat dari biologis, sosiologis serta psikologis, keluarga berbagai fungsi antara lain:
(1) prokreasi (berketurunan);
(2) sosialisasi;
(3) edukasi;
(4) proteksi atau perlindungan;
(5) afeksi (perasaan);
(6) pengembangan nilai kepercayaan (agama);
(7) menanamkan kesadasaran ekonomis dan kerja;
(8) pembinaan rekreasi (Vembrianto, 1993:32-49; Soelaeman, 1994: 84-115; Dreshner, 1992).

Gagasan di atas sangat sesuai pula dengan prisip Alkitab mengenai rumah tangga. Akan tetapi fungsi keluarga sudah terus mengalami perubahan karena perubahan jaman. Dalam era globalisasi ini fungsi keluarga yang tampaknya pesat berubah ialah dalam segi — (a) pendidikan dan sosialisasi; (2) rekreasi dan (3) perlindungan serta penumbuhan afeksi. Pengganti orangtua — media elektronik, pusat hiduran (games), pembantu, nenek/kakek — telah mengambil peran orang tua sebagai agen primer di dalam pendidikan anak.

II.  Keluarga merupakan sebuah sistim
Dalam sebuah keluarga terdapat: (1) anggota-anggota: yakni ayah, ibu dan anak serta famili; (2) unit-unit baik pribadi maupun kelompok — ayah & ibu, anak-anak, orangtua; (3) dinamika dan interaksi; (4) punya boundaries-nya sendiri; (5) punya tugas khusus sesuai dengan tahap perkembangannya (Balswick & Balswick, 1989:37). Kuatnya sebuah sistim akan terlihat dalam situasi dimana keluarga menghadapi tantangan, krisis-krisis baik dari dalam maupun dari luar.

Sebagai sebuah sistim yang berkembang, lambat laun keluarga tentu memiliki kepribadiannya sendiri. Setiap anggota di dalam keluarga juga mempunyai kepribadiannya sendiri. Interaksi dan komunikasi di antara sesama anggota itulah yang melahirkan dan mengembangkan kepribadian ke arah corak tertentu di dalam keluarga itu. Menurut David Field (1992), dilihat dari segi relasi suami-istri, orantua dan anak dalam keluarga, terdapat lima tipe kepibadian keluarga.

1 — Keluarga kacau — masing-masing anggota keluarga memperhatikan diri sendiri, tidak peduli dengan orang lain.

2 — Keluarga kuasa (otoriter) — ayah dan ibu atau salah satu pemegang kuasa mutlak (dominan secara kuat) di dalam rumah tangga.

3 — Keluarga seimbang — komunikasi luwes; kuasa dipegang secara seimbang oleh ayah dan ibu (bergantian atau terdapat konsep partnership).

4 — Keluarga protekstif — orangtua terlalu melindungi (overprotektive) anak sehingga tidak mengalami rasa bebas menyatakan pendapat bahkan merasa, takut dan tertekan.

5 — Keluarga simbiotik — orangtua membesarkan anak sedemikian rupa sehingga anak amat bergantung (overdependence) kepada orang tua, merasa bersalah untuk mandiri meskipun telah dewasa secara fisik.

III.  Keluarga sebagai pabrik pembentukan kepribadian anak.
Menurut Virginia Satir (1972), ada lima tugas keluarga sebagai pabrik pembentukan watak dan tatanilai anak. Di dalam keluarga anak mengalami pembentukan dan pemgembangan dalam hal-hal berikut:
(a) Konsep diri — pengenalan diri, penerimaan dan penghargaaan diri — bersifat positif atau negatif; baik atau buruk.

(b) Pola-pola komunikasi — cara berbicara, kata dan bahasa yang digunakan; bersifat tertutup atau terbuka; kasar atau sopan; emosional atau rasional.

(c) Disiplin dan ketertiban hidup — tidak teratur atau kaku, atau fleksibel; bertumbuh kemanjaan atau perasaaan ter tekan.

(d) Nilai-nilai hidup — termasuk nilai uang atau materi, nilai waktu, nilai kesehatan.nilai iman/kerohanian dan nilai pendidikan.

(e) Menghadapi krisis — sakit penyakit, kerugian ekonomi, kematian, tabntangan lingkungan. Apakah dihadapi secara tetangn atau histeris, kalap atau bahkan ada tindakan yang tidak tepat.

Menurut Paul Meier (1980:81-89), seorang psikiatri Kristen di Amerika, ada lima yang harus bertumbuh dalam keluarga dalam rangka pembentukan watak dan tatanilai yang baik.
1 — Kasih diantara suami istri dan diantara orangtua terhadap anak (1 Kor 13:4-7). Apakah kasih situ sebenarnya? Menurut Meier, kasih mencakup perhatian, perlindungan, pemeliharaan, tanggungjawab dan kesetiaan.
2 — Disiplin — tegaknya keseimbangan hukuman dan pujian yang diberikan oleh orangtua.
3 — Konsistensi — aturan yang konsisten dinyatakan dan diterapkan oleh orangtua namun fleksibel. Mempertimbangkan keadaaan dan kebutuhan anak.
4 — Keteladanan orangtua di hadapan anak-anak — perkataan, sikap dan penampilan serta perbuatan (Efesus (Ef 6:4; Kol 3:20-21).
5 — Suami mesti berperan sebagai kepala dan rumah tangga (Efesus 5:22-33; Kol 3:18; 1 Petrus 3:1-6). Pola dunia mengehendaki kesetaraan (equality) atau bahkan istri sebagai kepala rumah tangga. Istri yang over aktive atau istri yanjg pasif konpulsif juga dapat mengakibatkan lhair dan berkembangnya anak berkepribadian kacau.

IV.  Banyak faktor yang mempengaruhi kehidupan atau kualitas keluarga.
Untuk menyimak gambaran kelaurga di masa lalu, kita dapat menggambarkan genogram keluarga asal, dengan menyebutkan usia mereka,serta keadaaan emosi dan kesehatan mfereka secara ringkas. Kalau kita tahui tahu gambaran dari orang tua kita, maka kita dapat maengerti keterkaitannya dengan anak-anak yang dipelihara atau dibesarkan mereka sendiri. (Sneed & Sneed, 1992: 149-161). Kita juga dapat menggambarkan kedekatan kita dengan keluarga lain. Begitupun dengan pola-pola komunikasi (Stoop & Masteller, 1991: 131-151).

V.  Banyak faktor yang mempengaruhi kehidupan atau kualitas keluarga.
Kehidupan keluarga merupakan suatu perjalanan, dari saat awal pernikahan hingga suami-istri. Ada banyak faktor yang berpengaruh. Menurut Garry Collins (1994) faktor-faktor yang mempengaruhi kualtias hidup keluarga antara lain adalah:
A- Kepribadian masing-masing anggota keluarga.
B- Kehidupan masa lalu suami-istri.
C- Tantangan masa kini, beban dan tekanan.
D- Perubahan nilai dan budaya,
E- Perubahan fisik, fisiologis, usia.
F- Perkembangan keluarga itu sendiri.
Setiap tahapan mempunyai tugas dan fungsina secara khusus. Perjalanan dari satu tahap ke tahap yang lain menghasilkan perubahan dalam kepribadian keluarga itu sendiri. Hal ini perlu kita pahami untuk menerima keadaan keluarga asal dahulu dan untuk memikirkan pembentukan keluarga yang sehat di kemudian hari.
1- Keluarga muda, belum ada anak —
2- Keluarga dengan anak pertama balita —
3- Keluarga dengan anak pertama di SD —
4- Keluarga dengan anak pertama di SMP/SMU —
5- Keluarga dengan anak pertama keluar dari rumah karena studi, kerja, nikah —
6- Keluarga dimana proses pensiun terjadi —
7- Keluarga manula —

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s