Post Traumatic Syndrome akibat KDRT

Bila korban kejahatan KDRT tidak melaporkan sebagai akibat ”kepasrahan” dirinya, maka korban akan mengalami post traumatic syndrome stress (PTSS). Ada beberapa hal yang menyebabkannya.
1. The belief in personal invulnerability, yaitu tidak percaya bahwa dirinya sudah menjadi korban. Walaupun sebelumnya telah banyak terjadi kejahatan semacam itu, tidak pernah terpikir bahwa kejadian tersebut akan menimpa dirinya. Hal ini menyebabkan kecemasan yang mendalam. Persepsi yang selalu muncul adalah dia mudah diserang dalam segala hal.
2. The world as meaningful, apa pun yang terjadi di dunia ini adalah sesuatu yang teratur dan komprehensif. Maksudnya, apabila orang berbuat baik dan berhati-hati niscaya ia akan terhindar dari penderitaan. Tetapi ternyata apa yang diperkirakan tersebut tidak berjalan seperti itu, walaupun telah berbuat baik dan berhati-hati ternyata dirinya tetap menjadi korban.
3. Positive self-perception, manusia selalu berusaha menjaga derajat dirinya, tetapi pengalaman menjadi korban membuat mereka memiliki gambaran negatif. Dirinya adalah seorang yang lemah, tak berdaya dan berguna lagi.
Perlindungan korban dalam Pasal 39 UUKDRT diserahkan kepada kepolisian disertai dengan penetapan perintah perlindungan dari pengadilan. Dalam memberikan perlindungan sementara, kepolisian dapat bekerja sama dengan tenaga kesehatan, pekerja sosial, relawan pendamping, dan/atau pembimbing rohani untuk mendampingi korban. Jika terjadi keterlambatan dalam mengantisipasi pemulihan korban, maka akan menimbulkan dampak dari penanganan yang kurang baik. Apabila penanganan yang diberikan pemerintah atau masyarakat pada korban kurang, hal ini dapat menyebabkan korban mengalami tiga kali menjadi korban, yaitu :1) menjadi korban suatu kejahatan; 2) menjadi korban dari stigmatisasi masyarakat, hal ini sering terjadi pada korban perkosaan dan pelecehan seksual, 3) menjadi korban sistem peradilan pidana.
Tindak kekerasan yang dialami oleh perempuan dan anak seringkali merupakan tindakan yang terjadinya tidak secara kebetulan. Ada berbagai macam faktor penyebab terjadinya tindak kekerasan tersebut, antara lain: Pertama, karena faktor budaya: secara umum dalam masyarakat terdapat hegemoni patriarki dimana pusat kekuasaan ada pada laki-laki. Dalam hal ini laki-laki ingin menunjukkan kekuasaannya dengan cara apapun termasuk tindak kekerasan terhadap perempuan.
Kedua, secara umum kondisi sosial ekonomi wanita seringkali dianggap lemah dan tidak berdaya. Bagi wanita/isteri yang tidak bekerja dan menggantungkan ekonomi pada suaminya, maka tindak kekerasan yang dialami merupakan suatu tindakan yang harus “dipetieskan” agar ia dapat melangsungkan kehidupan keluarganya.
Ketiga, perempuan dinilai lebih mudah untuk ditakut-takuti atau diancam. Dalam kasus perkosaan biasanya korban mengalami trauma dan menjadikan mereka sangat tertutup, sehingga peristiwa yang dialami tidak diketahui orang lain. Dalam kasus perkosaan dimana pelakunya adalah orang-orang dekat korban (ayah kandung/ ayah tiri/kakak laki-laki), seringkali terpendam hingga bertahun-tahun lamanya.
Keempat, karena tindakan kekerasan kepada anak-anak lebih tidak beresiko dan tidak mudah untuk dibongkar. Dalam kasus-kasus penganiayaan atau perkosaan kepada anak-anak seringkali korban tidak memahami peristiwa yang menimpa dirinya, dan baru kan mereka pahami dan rasakan setelah mereka dewasa.
Kelima, karena pemahaman keluarga dan masyarakat tentang tanggung jawabnya dalam pemenuhan hak asasi Perempuan masih sangat lemah. Dalam hal ini keluarga dan masyarakat belum paham bahwa perempuan juga merupakan makhluk yang memiliki hak asasi sebagaimana manusia lainnya. Tidak adanya pemenuhan hak asasi bagi mereka berarti pengingkaran terhadap nilai kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s