Kecemasan menurut Alkitab

            Seorang wanita yang mengalami kecemasan ekstrem mungkin tidak dapat mengontrol keadaannya. Ia merasa begitu cemas tanpa dapat mengetahui keadaannya dengan pasti. Wanita ini memiliki perasaan atau luka yang dalam, tersembunyi yang tetap tinggal selama bertahun-tahun dalam alam bawah sadarnya. Beberapa kasus yang penulis temui ia perlu menghadapi masalah tersebut, menemukan akar perasaannya dan menggantikan dengan kuasa kesembuhan yang diberikan Yesus Kristus dan Alkitab.

Pentingnya seseorang yang mengalami kecemasan untuk lebih bersandar pada Tuhan dan memanfaatkan sumber-sumber dari Alkitab.

“Secara alkitabiah, tidaklah salah jika kita mencoba untuk hidup lebih realistis dalam menghadapi masalah. Karena mengabaikan suatu bahaya merupakan tindakan yang salah dan bodoh. Namun jugalah salah jika kita kita hidup dalam kekuatiran. Untuk kekuatiran semacam ini kita harus menyerahkannya kepada Tuhan yang dapat melepaskan kita dari tekanan-tekanan seperti itu dan membebaskan kita untuk hidup lebih realistis dan memenuhi kebutuhan kita dan sesama kita.”(DR Garry R Collins, Christian Counselling,1980:)

 

Plato (dalam Minirth, 2005:16) berkata, “Kesalahan terbesar yang dibuat oleh para dokter adalah bahwa mereka berusaha untuk menyembuhkan tubuh tanpa berusaha untuk menyembuhkan pikiran; padahal pikiran dan tubuh adalah satu dan tidak boleh ditangani secara terpisah”. Alkitab menyatakan konsep tersebut secara lebih baik lagi di dalam 1 Tesalonika 5:23 “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita”.

Yesus menasehati dalam Matius 6:34,Yesus berkata bahwa orang yang sedang mengalami kecemasan harus belajar untuk menerima keadaan yang sepertinya tidak dapat diubahkan saat itu. Tetapi kalimat itu juga tidak berarti seorang wanita yang mengalami kecemasan untuk berdiam diri dan tidak memperbaiki keadaan di sekitarnya. Jelasnya, Yesus ingin agar wanita yang mengalami kecemasan untuk berusaha menghadapi situasi yang berat sekalipun tanpa harus kuatir dan belajar untuk hidup sambil menuju ke arah berbaikan.

Kecemasan terjadi karena selalu memikirkan dengan pikirannya sendiri, Paulus menasehati untuk menyerahkan segala kekuatirannya kepada Allah. Paulus mengatakan : “Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:6-7).

Wanita yang cemas melihat bahwa dirinya tidak dapat menyelesaikan semua persoalan, atau bahkan tidak ada seorangpun yang peduli kepadanya. Penulis Amsal mengakui bahwa sering kali orang yang mengalami kecemasan karena lebih berpikir tentang kemampuan atau pengertian dirinya sendiri. Sebagaimana terungkap dalam salah satu bagiannya : “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar pada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejahatan; itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu” (Amsal 3:5-8). Hal ini menunjukkan bahwa wanita yang cemas kadang tidak sadar untuk melibatkan Allah membantu masalahnya, atau kadang ia merasa bijak dan menganggap semua masalahnya akibat perbuatan suaminya.

Wanita yang mengalami kecemasan kadang hanya memandang permasalahan yang sedang dihadapi dan menciptakan lebih banyak kesulitan untuk diri sendiri. Seorang wanita yang cemas dapat bertahan di tengah-tengah setiap kesulitan dengan memusatkan perhatiannya kepada Tuhan dan bergantung kepada-Nya. Yeremia mengatakan : “Tetapi berbahagialah orang yang mengandalkan TUHAN dan yang berharap kepada-Nya. Ia seperti pohon yang tumbuh di tepi sungai, yang akarnya mencapai air—pohon yang tidak takut panas dan tidak kuatir akan musim kering  yang panjang. Daun-daunnya tetap hijau dan ia terus-menerus menghasilkan buah yang baik”  (Yer 17:7-8).

Penulis kitab Masmur memberi nasehat untuk wanita yang mengalami kecemasan. “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepadaNya, penolongku dan Allahku! (Mazmur 42:6) Semua pintu seperti tertutup dan tidak ada harapan lagi, tetapi Allah yang akan menjadi penolong kepada setiap orang yang berhadap padaNya.

Yesus berkata kepada murid-muridNya untuk memperhatikan burung-burung gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah. Dia berkata : “ Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta (menurut terjemahan Alkitab versi NIV adalah satu jam) pada jalan hidupnya? Jadi, jikalau kamu tidak sanggup membuat barang yang paling kecil, mengapa kamu kuatir akan hal-hal lain? (Lukas 12:22-26, bd. Matius 6 : 25-34).

Paulus dalam ayat yang lain kepada jemaat di Filipi menasehati untuk tidak larut dalam perasaan kuatir. Wanita yang mengalami kecemasan supaya tidak melihat hal-hal yang membuat ia cemas, tetapi rasa itu dapat mengubah motifasinya untuk mengucap syukur kepada Tuhan. “Janganlah kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:6-7). Hal ini tidak mudah, karena trauma atau perasaan akan muncul kembali kekerasan yang dilakukan suaminya.

Petrus membagikan pengalamannya saat ia mengalami kekhawatiran ketika berjalan di atas air. “Serahkanlah segala kekuatiran kepada-Nya sebab Ia yang memelihara kamu.” (I Petrus 5:7). Wanita yang mengalami kecemasan dapat menyerahkan segala hal yang berhubungan dengan perasaan cemasnya kepada Tuhan. Tuhan tidak bermaksud membiarkan ia gagal, tetapi Tuhan akan menguatkan dan membantu untuk berdiri kokoh, memandang hari esok dengan keyakinan.

Yesaya bersukacita dan memuji Tuhan “Yang hatinya teguh Kau jagai dengan damai sejahtera, sebab kepadaMulah ia percaya” (Yes. 26:3). Apapun pilihannya hal-hal yang membuat wanita mengalami kecemasan  atau menghilangkan kecemasan itu. Kadang lebih banyak wanita yang mengalami kecemasan memilih untuk memusatkan pikiran dan perasaan pada pikiran-pikiran negatif  suaminya dan mencoba mengantisipasi sendiri kemungkinan terburuk akan terjadi lagi. Namun apabila pikiran dan perasaan itu berpusat pada Tuhan dan janji Alkitab dan damai sejahtera akan menolong wanita yang sedang cemas. Tuhan telah merencanakan masa depan, tetapi wanita yang sedang cemas harus mau bertindak untuk bebas dari rasa cemas.

Yesaya  41:10, seperti berkata tidak ada alasan wanita untuk larut dalam kecemasan bahkan ketakutan terhadap suaminya sendiri karena Allah menyertainya. “Jangan bimbang” dalam ayat ini berarti “menatap”, memandang sekeliling dengan penuh kecemasan.  Jadi ayat ini membimbing kepada wanita untuk tidak takut dengan hal-hal yang berhubungan dengan kecemasan tetapi lebih memandang kepada Tuhan yang akan menolong, memberi jalan keluar dan membawa kemenangan dari rasa cemas. 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s