KECEMASAN-1

Kecemasan menurut Ahli Psikologi

Pada dasarnya ada dua faktor yang menyebabkan kecemasan pada wanita,  yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi tugas dan peranan wanita dalam rumah tangga dengan berbagai permasalahannya.  Linda Hager mengatakan bahwa tekanan setiap hari yang tidak pernah berakhir di rumah, mengatur jadwal kewajiban mereka terhadap anak-anak, masyarakat, kehidupan religius dan tanggung jawab pekerjaan, menyebabkan mereka mengalami overload atau hot reactor (Hager & Hager, 1999:24). 

Faktor eksternal, yaitu pengabdian diri seorang wanita terhadap suami dan anak-anak menyebabkan ia sendiri tidak memiliki waktu untuk diri sendiri.  Akibatnya ia merasa kosong, marah, dan frustasi karena pilihan hidup yang telah dilakukannya (Hager & Hager, 1999:24).

Tugas seorang ibu di rumah juga sangat luas dan tidak terbatas oleh waktu. Jean Fleming mengatakan bahwa pekerjaan seorang ibu rumah tangga, adalah sebagai guru, perawat, ahli diet, ahli psikologi, sopir, pelatih, orang yang berpegang pada disiplin, penjahit wanita, ahli dekorasi interior (Fleming, 1982:23).  Georgia Witkin seorang konselor wanita mengungkapkan bahwa kecemasan yang dialami wanita dapat berkaitan dengan perkembangan fisiknya, perubahan peran dan dengan psikologisnya (Right, 1993:53).

            Perubahan peran wanita ini menimbulkan beberapa tekanan sebagai akibat dari keputusan suami bahwa istri memasuki lapangan kerja namun tetap memelihara hubungan mereka sebagai suami istri (G. Wade dan Mary Jo Rowatt, 1994:5). Tekanan yang bersifat eksternal disebabkan oleh lingkungan masyarakat.  Walaupun istri tidak memiliki pekerjaan di luar rumah, tekanan yang ditimbulkan oleh masyarakat dapat menimbulkan stres berat seperti birokrasi, mode dan emansipasi (Coleman, 1988:5-9).

Menurut publikasi Komnas Perempuan,  bangsa Indonesia telah mengenal bentuk-bentuk tindak kekerasan terhadap perempuan, seperti kawin paksa, poligami, perceraian secara sepihak tanpa mempertimbangkan keadilan bagi isteri dan anak, tindak pemukulan dan penganiayaan, dan bentuk-bentuk kesewenangan lain terhadap perempuan, merupakan contoh yang tidak sulit untuk ditemukan pada masyarakat Indonesia (2002:22). Kekerasan yang dialami oleh perempuan ini sangat banyak bentuknya, baik yang bersifat psikologis, fisik, seksual, ekonomis, budaya dan keagamaan, hingga bagian dari sebuah sistem pengorganisasian lintas negara.

Menurut Post (1978:57-86), kecemasan adalah kondisi emosional yang tidak menyenangkan, yang ditandai oleh perasaan-perasaan subjektif seperti ketegangan, ketakutan, kekhawatiran dan juga ditandai dengan aktifnya sistem syaraf pusat. Freud (dalam Arndt, 1974:78) menggambarkan dan mendefinisikan kecemasan sebagai suatu perasaan yang tidak menyenangkan, yang diikuti oleh reaksi fisiologis tertentu seperti perubahan detak jantung dan pernafasan.

Kartono (1981:113) juga mengungkapkan bahwa neurosa kecemasan pada wanita ialah kondisi psikis dalam ketakutan dan kecemasan yang kronis, sungguhpun tidak ada rangsangan yang spesifik. Menurutnya, kecemasan ditandai dengan emosi yang tidak stabil, mudah tersinggung dan marah, sering dalam keadaan gelisah.

Menurut Wignyosoebroto (1981:45), ada perbedaan mendasar antara kecemasan dan ketakutan. Pada ketakutan, apa yang menjadi sumber penyebabnya selalu dapat ditunjuk secara nyata. Sedangkan pada kecemasan sumber penyebabnya tidak dapat ditunjuk dengan tegas, jelas dan tepat.

Jersild (1960:28) menyatakan bahwa ada dua tingkatan kecemasan. Pertama, kecemasan normal, yaitu pada saat individu masih menyadari konflik-konflik dalam diri yang menyebabkan cemas. Kedua, kecemasan neurotik, ketika individu tidak menyadari adanya konflik dan tidak mengetahui penyebab cemas, kecemasan kemudian dapat menjadi bentuk pertahanan diri.  Menurut Bucklew (1980:145), para ahli membagi bentuk kecemasan pada wanita dalam dua tingkat, yaitu:

a.       Tingkat psikologis. Kecemasan yang berwujud sebagai gejala-gejala kejiwaan, seperti tegang, bingung, khawatir, sukar berkonsentrasi, perasaan tidak menentu dan sebagainya.

b.      Tingkat fisiologis. Kecemasan yang sudah mempengaruhi atau terwujud pada gejala-gejala fisik, terutama pada fungsi sistem syaraf, misalnya tidak dapat tidur, jantung berdebar-debar, gemetar, perut mual, dan sebagainya.

Simtom-simtom somatis yang dapat menunjukkan ciri-ciri kecemasan menurut Stern (1964) adalah muntah-muntah, diare, denyut jantung yang bertambah keras, seringkali buang air, nafas sesak disertai ketegangan pada otot-otot.  Sue, dkk (dalam Kartikasari, 1995:79) menyebutkan bahwa manifestasi kecemasan terwujud dalam empat hal berikut ini.

a)      Manifestasi kognitif, yang terwujud dalam pikiran seseorang, seringkali memikirkan tentang malapetaka atau kejadian buruk yang akan terjadi.

b)      Perilaku motorik, kecemasan seseorang terwujud dalam gerakan tidak menentu seperti gemetar.

c)      Perubahan somatik, muncul dalam keadaaan mulut kering, tangan dan kaki dingin, diare, sering kencing, ketegangan otot, peningkatan tekanan darah dan lain-lain. Hampir semua penderita kecemasan menunjukkan peningkatan detak jantung, respirasi, ketegangan otot dan tekanan darah.

Menurut Horney (dalam Arndt, 1974:6-9), sumber-sumber ancaman yang dapat menimbulkan kecemasan pada wanita dapat bersifat lebih umum. Penyebab kecemasan menurut Horney, dapat berasal dari berbagai kejadian di dalam kehidupan atau dapat terletak di dalam diri seseorang. Suatu kekaburan atau ketidakjelasan, ketakutan akan dipisahkan dari sumber-sumber pemenuhan kekuasaan dan kesamaan dengan orang lain adalah penyebab terjadinya kecemasan dalam konsep kecemasan Angyal (1974:38).

Murray (dalam Arndt 1974:17-19) sumber-sumber kecemasan adalah keinginan-keinginan untuk menghindar dari terluka (harmavoidance), menghindari teracuni (infavoidance), menghindar dari disalahkan (blamavoidance) dan bermacam sumber-sumber lain. Disamping ketiga keinginan tersebut ia juga menyebutkan bahwa kecemasan wanita dapat merupakan reaksi emosional pada berbagai kekhawatiran, seperti kekhawatiran pada masalah sekolah, masalah finansial, kehilangan objek yang dicintai dan sebagainya.

Faktor kepribadian yang berpengaruh pada kecemasan adalah kepercayaan diri dan motivasi presentasi diri. (dalam Hidayat dkk, 1996:25). Saat individu menghadapi keadaan yang dianggapnya mengancam, maka secara umum ia akan memiliki reaksi yang biasanya berupa rasa takut. Kebingungan menghadapi stimulus yang berlebihan yang tidak berhasil dikendalikan oleh ego, maka ego akan diliputi kecemasan.

Kecemasan sebagai tanda peringatan bagi individu bahwa ia dalam bahaya, merupakan isyarat bagi ego untuk melakukan tindakan-tindakan yang tepat (Freud dalam Hall & Lindzey, 1993). Kecemasan adalah suatu keadaan tegangan dan merupakan suatu dorongan yang timbul oleh sebab dari luar (Freud dalam Hall & Lindzey, 1993:35). Atau dari pendapat lain Maramis (dalam Anima Psikologi Indonesia, 1994:26) mengemukakan kecemasan adalah suatu ketegangan, rasa tidak aman, kekhawatiran yang timbul karena dirasakan akan mengalami kejadian yang tidak menyenangkan.

Kecemasan merupakan salah satu unsur emosi yang pernah dialami oleh seorang wanita di dalam kehidupannya, karena suatu pengalaman baru yang dijumpai dalam kehidupan ini tidak selalu menyenangkan, tetapi ada kalanya muncul situasi yang membawa kecemasan. Penyebab timbulnya kecemasan pada wanita sukar diperkirakan dengan tepat. Hal ini disebabkan oleh adanya sifat subjektif dari kecemasan, yaitu bahwa kejadian atau pengalaman seorang wanita yang sama belum tentu dirasakan sama pula oleh wanita lain, dengan kata lain suatu rangsang atau kejadian dengan kualitas dan kuantitas yang sama dapat diinterpretasikan secara berbeda antara wanita yang satu dengan wanita yang lainnya.

Kecemasan merupakan pengalaman subjektif yang tidak menyenangkan yang berbentuk ketegangan, kegelisahan, tertekan, yang disertai dengan gejala-gejala fisiologis, misalnya sakit kepala, nyeri pada pinggang, sesak nafas, sakit perut, mual, dan lain-lain (Philip & Solomon dalam Anima Psikologi Indonesia, 1994:243).

Lazarus (dalam Blackburn & Davidson, 1994:21) dengan model kecemasannya yang benar-benar berorientasi kognitif, membuat suatu pembedaan antara proses penilaian primer dan sekunder. Penilaian primer adalah penilaian seseorang wanita yang menganggap bahwa suatu situasi sebagai sesuatu yang mengancam. Hal ini berhubungan dengan ancaman yang dilakukan oleh suami kepada istrinya.

Sedangkan penilaian sekunder terdiri dari penilaian apakah ia mempunyai sumber-sumber internal dan eksternal yang diperlukan untuk menghadapi situasi tersebut. Kombinasi kedua penilaian tersebut, yaitu adanya ancaman yang potensial (primer) dan penguasaan sumber-sumber (sekunder), menentukan tingkat kecemasan yang dialami seseorang pada situasi tertentu. Tetapi dari faktor kepribadian seorang wanita yang berpengaruh langsung pada kecemasan adalah kepercayaan diri dan motivasi presentasi diri.

Tetapi beberapa penelitian dari para ahli tentang studi kecemasan secara umum, menyatakan bahwa perempuan lebih cemas daripada laki-laki (Maccoby dan Jacklin, 1974:56).  Myers (1983:36) mengatakan bahwa wanita lebih cemas akan ketidakmampuannya dibanding dengan laki-laki, laki-laki lebih aktif, eksploratif, sedangkan wanita lebih sensitif.

Hasil penelitian lain (dalam Leary, 1982:76) menyatakan bahwa wanita memiliki skor yang lebih tinggi pada pengukuran ketakutan dalam situasi sosial dibanding pria. James (dalam Smith, 1968:51) mengatakan bahwa perempuan lebih mudah dipengaruhi oleh tekanan-tekanan lingkungan daripada laki-laki. Perempuan juga lebih cemas, kurang sabar, dan mudah mengeluarkan air mata (Cattel, dalam Smith, 1968:24). Lebih jauh lagi, Morris (dalam Leary, 1982:81) menyatakan bahwa perempuan memiliki skor yang lebih tinggi pada pengukuran ketakutan dalam situasi sosial dibanding laki-laki.

Seseorang yang mengalami kecemasan dalam berbagai bentuk, sebenarnya berada dalam kondisi emosi yang sama sekali tidak menyenangkan (Spielberger, dalam Post dkk.,1978:65). Lazarus, (1976:90) menjelaskan lebih lanjut bahwa perasaan cemas sebenarnya merupakan pengalaman yang samar-samar disertai dengan adanya perasaan tidak berdaya.

Selain itu kecemasan pada wanita dapat dipengaruhi oleh mood seseorang. Ada dua mekanisme di mana mood mempengaruhi memori seorang wanita. (1) Mood-dependent memory, suatu informasi atau realita yang menimbulkan mood tertentu, atau (2) Mood congruence effects, kecenderungan untuk menyimpan atau mengingat informasi positif kala mood sedang baik, dan sebaliknya informasi negatif lebih tertangkap atau diingat ketika mood sedang jelek (Byrne & Baron, 2000:16).

Seorang wanita dapat mengalami kecemasan karena pengaruh pikirannya. Laugesen (2003:30) dalam studinya tentang empat model kognitif yang digagas oleh Dugas, Gagnon, Ladouceur dan Freeston (1998:24) menemukan bahwa empat model kognitif tersebut efektif bagi pencegahan dan perlakuan terhadap kecemasan. Kecemasan merupakan fenomena kognitif, fokus pada hasil negatif dan ketidakjelasan hasil di depan. Hal ini didasari dari definisi Vasey & Daleiden (dalam Laugesen, 2003:192) berikut; Empat model kognitif itu ialah (1) tidak toleran (intoleransi) terhadap ketidakpastian, (2) keyakinan positif tentang kecemasan, (3) orientasi negatif terhadap masalah, serta (4) penghindaran kognitif.

Pemahaman tiap variabel tersebut; (1) intoleransi terhadap ketidakpastian merupakan bias kognitif yang mempengaruhi bagaimana seseorang menerima, menginterpretasi dan merespons ketidakpastian situasi pada tataran kognitif, emosi dan perilaku; misalnya wanita yang memandang suaminya tidak stabil emosinya, atau wanita yang mengalami kecemasan ekonomi. Ia melihat suaminya malas bekerja sedangkan kebutuhan hidup meningkat dengan bertambahnya usia anak dan biaya pendidikan anak. (2) sejumlah studi menunjukkan bahwa wanita yang meyakini bahwa perasaan cemas dapat membimbing pada hasil positif seperti solusi yang lebih baik dari masalah, meningkatkan motivasi atau mencegah dan meminimalisir hasil negatif, dapat membantu mereka dalam menghadapi ketakutan dan kegelisahan.

Wanita yang memiliki komunitas positif akan lebih mudah mendapat pengaruh yang positif. (3) orientasi negatif terhadap masalah merupakan seperangkat kognitif negatif yang meliputi kecenderungan untuk menganggap masalah sebagai ancaman, memandangnya sebagai sesuatu yang tidak dapat dipecahkan, meragukan kemampuan diri dalam menyelesaikan masalah, menjadi merasa frustrassi dan sangat terganggu ketika masalah muncul; (4) penghindaran kognitif dikonsepsikan dalam dua cara, yakni (a) proses otomatis dalam menghindari bayangan mental yang mengancam dan (b) strategi untuk menekan pikiran-pikiran yang tidak diinginkan.

2 comments on “KECEMASAN-1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s