•May 17, 2009 •
Leave a Comment
Jika Anda tidak mencoba berbuat sesuatu melampaui apa yang sudah Anda kuasai,
Anda tidak akan pernah bertumbuh.
Untuk menentukan tindakan dalam pertumbuhan lakukan lima langkah berikut :
Langkah pertama Spesifik, apa yang akan saya lakukan hari ini, minggu ini atau bulan ini. Tuliskan secara spesifik menjadi daftar yang menolong untuk memprioritaskan atau menentukan goal yang jelas.
Langkah kedua Measureable, apa yang kita lakukan dapat diukur, diamati proses pelaksanaannya, adakah kegagalan, kesulitan atau hal-hal lain yang akan menolong kita untuk membuat suatu ukuran.
Langkah ketiga Attaineble, sesuatu yang akan dilakukan selayaknya dapat dijangkau, buka yang muluk-muluk dan cenderung menyulitkan. Tetapkan pada langkah ini hal-hal yang jelas akan dapat dilakukan baik dengan pertimbangan kemampuan, biaya dan waktunya.
Langkah keempat Relevan, Hal-hal yang akan dilakukan relevan dengan diri kita, jangan mengada-ada.
Langkah kelima Time Limited, kita sendiri dapat menentukan batasan waktu yang jelas (minggu, bulan, semester, tahun).
Posted in Coach
Tags: Pertumbuhan
•May 6, 2009 •
Leave a Comment
Coach yang handal mempunyai kombinasi dari moral, kemampuan, dan tindakan-tindakan. Berikut adalah beberapa dari hal tersebut:
- Coach yang handal adalah seseorang yang tidak pernah berhenti belajar; secara kontinu mempertajam kemampuan, teknik, dan alat belajar yang mereka punyai.
- Coach yang handal selalu menciptakan lingkungan belajar yang aman, inovatif, dan kompetitif yang dapat membangkitkan semangat serta memotivasi kliennya untuk lebih baik ke depannya.
- Coach yang handal mempunyai keingintahuan alami yang sangat besar dan dapat menjadi pendengar yang baik terhadap apa yang sedang dialami kliennya.
- Coach yang handal selalu mengajukan pertanyaan yang dapat menginspirasi untuk membangkitkan kepercayaan diri, inovasi, serta tindakan.
- Coach yang handal mampu menularkan semangatnya; mampu mengenali kelebihan dan keberhasilan kliennya tanpa membesar-besarkan.
- Coach yang handal sangat berpihak dengan kliennya. Dia akan secara suportif menguji asumsi-asumsi kliennya, dan mempertanyakan kepercayaan dan tindakan klien yang membatasinya.
- Coach yang handal dapat mengenali dan menggunakan intuisinya, tanpa harus mengembangkan egonya sendiri.
- Coach yang handal memiliki pemikiran yang mau mengembangkan orang lain, dengan tetap terfokus pada kapasitas orang lain, pada proses, dan pada masukan, dan tidak hanya terfokus pada kemampuan sementara dan hasil akhir.
- Coach yang handal mampu mendukung seorang klien yang mandiri, yang tidak bergantung pada orang lain.
- Coach yang handal tidak mengerjakan sesuatunya untuk coachee nya, agar sang coachee melakukannya untuk dirinya sendiri.
Posted in Coach
Tags: Coach
•April 11, 2009 •
Leave a Comment
Setiap sikap dan tindakan dalam pernikahan memperoleh tempat untuk berpijak. Sikap-sikap ini sering dipakai dalam pernikahan untuk melukai, menyerang dan tanpa disadari menghancurkan pasangannya. Disadari atau tidak sikap-sikap ini digunakan dalam membela diri. Gottman menyingkapkan empat kekuatan yang menghancurkan dalam sebuah pernikahan.
Kecaman, kekuatan ini menghacurkan dan mungkin paling berbahaya karena kecaman berisi tuduhan, dituduhkan, menekan dan berusaha membuat orang lain merasa bersalah. Kecaman sering bersembunyi di balik lelucon dan senda gurau. Kecaman menjadi sangat berbahaya karena bersifat merendahkan, memadamkan semangat dan harga diri. Komentar yang bersifat mengecam tidak akan membuat orang lain menjadi lebih baik. Hal ini juga tidak memperkaya orang lain tetapi justru meracuninya. Yang berbahaya sekali kecaman dikemas menyerupai penjabaran.
Penghinaan, adalah pembunuhan karakter. Penghinaan terjadi ketika kecaman measuk dalam pernikahan. Penghinaan betul-betul seperti mortir yang ditembakkan tepat ke sasaran. Pikiran negatif akan semakin melimpan dengan pernyataan negatif.
Mempertahankan diri, respon alami untuk melindungi diri dari serangan-serangan pihak luar. Mempertahankan diri dipandang sebagai dalihdan kadang disertai serangan balik. Yang berbahaya dari pola ini, semakin tinggi seseorang mempertahankan diri maka semakin rendah keintiman emosional seseorang. Tanggapan mempertahankan diri hanya akan memperkuat dinding yang dibangun untuk perlindungan agar tetap tegak berdiri. Dinding inilah yang membuat pernikahan terpisah secara emosional.
Membangun pembatas, suara yang paling keras membangun pembatas adalah keheningan dan pesan yang diutarakan adalah jarak dan celaan. Pria cenderung menghindari konflik dengan istri dengan cara menarik diri dan bungkam. Sikapnya mendiamkan, membuat komunikasi terputus. Hal ini sangat berbahaya secara psikologis dan hubungan verbal dalam pernikahan. Ketika pembatas ini semakin parah biasanya menyuarakan jeritan kematian sebuah pernikahan. Hidup serumah, hanya simbol saja.
Keluarga dibangun bersama adanya konflik-konflik yang dihadapi. Sebesar apapun permasalahan tidak ada yang tidak dapat diselesaikan apabila ada kesepakatan untuk menyelesaikan, kuncinya kerendahan hati dan tunduk pada Firman-Nya.
Posted in Norman Wright, konseling Keluarga, pernikahan
•April 10, 2009 •
Leave a Comment
Bagaimana Anda mengemas dan mempersembahkan cinta kepada pasangan Anda? Sebaik apakah Anda berkomunikasi? Apakah bahasa cinta yang Anda komunikasikan dalam pernikahan?
Anda dapat berkomunikasi dan berbagi cinta dengan cara yang Anda kehendaki untuk dicintai dan berkomunikasi, tetapi itu mungkin bukan cara yang disukai pasangan Anda. Setiap orang berbeda-beda dalam menerima dan mengekspresikan cintanya.
Ada lima bahasa cinta yang mungkin lazim bagi Anda menurut Dr. Gary Chapman.
- Kata-kata peneguhan, “Aku mencintaimu”, atau ketika bangun bagi saya sering mengungkapkan ini kepada istri saya “I love You mama” (kalau lagi inget dan pas tidak marahan tentunya) dan Ia balik mengatakan hal yang sama. Hal ini secara tulus juga dapat mengungkapkan kekaguman, pujian dan sanjungan kepada pasangan Anda.
- Tindakan melayani, melakukan tindakan untuk menolong pasangan. Tidak hanya dengan kata-kata tetapi juga lebih dalam hal tindakan. “Aku sangat memikirkanmu dan aku mengorbankan waktuku untuk menolongmu”.
- Hadiah/give, memberikan surpraise dalam bentuk hadiah-hadiah kecil ataupun besar. Pada moment-moment khusus dan mungkin istimewa.
- Sentuhan fisik atau kemesraan, memberikan sentuhan, menepuk, mengelus, mengusap kepala, punggung, atau juga belaian dan merangkul.
- Waktu berkualitas, berjalan bersama, meluangkan waktu eksklusif bersama dan membicarakan mengenai hal yang penting bagi masing-masing pihak menunjukkan bahwa Anda saling memperhatikan melalui percakapan.
Posted in konseling Keluarga, pernikahan
•April 7, 2009 •
Leave a Comment
Seseorang akan berusaha menyenangkan orang lain dan mungkin tergoda untuk mendapatkan imbalan penghormatan orang lain. Walaupun hanya ucapan terima kasih, tetapi juga supaya tidak melukai orang lain. Ada lima masalah penting yang berkembang bagi orang-orang seperti ini.
- Kita tidak pernah berkatan tidak. Orang semacam ini ingin menyenangkan orang lain dan hasilnya kelelahan fisik dan emosi serta meningkatnya cadangan kebencian dan kemarahan.
- Aktifitas didorong rasa bersalah. Kita melakukan sesuatu karea takut akan akibatnya, ketibang karena benar-benar ingin melakukannya.
- Tidak mengalami kesaksian diri sendiri. Orang cenderung ingin menyenangkan orang lain dengan terjebak di balik kepribadian palsu.
- Tidak menemukan pribadi yang unik dan indah sesuai tujuan Tuhan. Seseorang berusaha menghabiskan hidup dengan berusaha menjadi orang lain.
- Menyenangkan hati orang lain adalah bentuk penyembahan berhala. Kita membuat orang lain bukan Allah, tetapi ia menjadi pusat dari dunia kita.
Posted in Identitas, Patrick A. Mean, konseling Keluarga
Tags: Identitas
•April 7, 2009 •
Leave a Comment
Dalam pernikahan akan ada kekesalan, luka dan kebutuhan serta pengharapan yang tidak terpenuhi. Karena pada prinsipnya tidak ada pasangan yang sempurna. Kalau satu sama lain saling melukai maka akan ada amarah, dendam dan kepahitan.
Ketika seseorang sedang ada amarah, seseorang tidak dapat berfokus pada pemecahan masalah itu secara langsung, tetapi sebaliknya menyerang orang lain.
Apabila seseorang sedang ada dendam, dendam tidak pernah memperoleh angka seri, karena orang yang dimusuhi tidak pernah menyimpan angka kesalahan dengan cara perhitungan yang sama. Sementara kepahitan akan membuat seseorang menggunakan lidahnya yang tajam untuk mengiris orang lain hingga berkeping-keping.
Langkah menuju pengampunan adalah :
1. Menyadari dan mengenal emosi yang memenjarakan.
2. Mengampuni diri sendiri karena menyimpan sakit hati terhadap orang lain.
3. Mengampuni orang lain.
Dibutuhkan waktu, tenaga dan kesabaran untuk menyempurnakan hal di atas.
Posted in Kasih karunia, Patrick A. Mean, pengampunan
Tags: pengampunan
•April 3, 2009 •
Leave a Comment
Untuk mengevaluasi apakah Anda adalah tipe orang yang suka menyenangkan orang dan mencari pujian dari orang lain (pasangan/partner, team, komunitas).
- Saya mempunyai ketakutan yang mendalam untuk marah, ditolak atau ditinggalkan.
- Saya merasa bertanggung jawab untuk membahagiakan orang-orang di sekitar saya.
- Saya cenderung sadar tentang perilaku saya di tengah-tengah orang lain, begitu juga dengan perilaku orang lain di sekitar saya.
- Saya dapat merasakan kebutuhan orang lain sebelum mereka mengatakan.
- Saya sulit berkata “tidak”, walaupun hal itu jawaban terbaik bagi saya.
- Saya terbeban oleh kata-kata “harus” dan mesti” serta merasa bersalah dnegan kinerja saya.
- Saya lebih suka menghindari perselisihan.
- Saya ingin tahu apa yang dikatakan atau dipikirkan orang lain tentang saya.
- Saya takut orang lain tahu saya yang sebenarnya.
- Saya cenderung terlalu banyak berkomitmen.
Cara menjawab pertanyaan:
Dirumah atau dengan Istri di tempat kerja /orang lain
Sering | Kadang | tida pernah PERTANYAAN Sering | Kadang | tida pernah
Point : Sering (2), kadang (1), tidak pernah (0)
Posted in Identitas, Patrick A. Mean, Pemulihan, Pendidikan Kristen, Test, konseling Keluarga, pernikahan